Transplantasi Organ dan Donor Organ ditinjau dari Hukum Islam

Pengertian Transplantasi Organ

Picture4

Dalam Kamus Kesehatan DORLAND menjelaskan bahwa Transplantasi berasal dari bahasa inggris “Transplantation” berarti: penanaman jaringan yang diambil dari tubuh yang sama atau dari individu lain. Adapun transplantasi berarti: Mentransfer organ atau jaringan dari satu bagian ke bagian lain, yang diambil dari badan untuk ditanam ke daerah lain pada badan yang sama atau ke individu lain.

Secara Etimologi transplantasi diambil dari Bahasa Latin Kuno transplantare. Dalam bahasa Inggris “Transplantation” artinya mencangkokkan atau memindahkan.

Menurut WHO, Transplantation is the transfer (engraftment) of human cells, tissues or organs from a donor to a recipient with the aim of restoring function(s) in the body.

Menurut UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Pasal 1 ayat (5), transplantasi mempunyai arti “Rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ dan atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik”.

Transplantasi adalah transfer ( engraftment ) sel manusia, jaringan atau organ dari donor untuk penerima dengan tujuan mengembalikan fungsi  dalam tubuh.

Donor Organ Dari Pendonor Mati atau Jenazah

Transplantasi ini merupakan pemindahan organ atau jaringan dari tubuh jenazah orang yang baru saja meninggal kepada tubuh orang lain yang masih hidup. biasanya pendonornya adalah orang yang baru saja meninggal, karena kecelakaan, serangan jantung, dan pecahnya pembuluh darah otak.

Allah SWT telah mengharamkan pelanggaran terhadap kehormatan mayat sebagaimana pelanggaran terhadap kehormatan orang hidup. Allah SWT menetapkan pula bahwa menganiaya mayat sama saja dosanya dengan menganiaya orang hidup.

Diriwayatkan dari Aisyah Ummul Muminin RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Amar bin Hazm Al Anshari RA, dia berkata,”Rasulullah pernah melihatku sedang bersandar pada sebuah kuburan. Maka beliau lalu bersabda : “Janganlah kamu menyakiti penghuni kubur itu !”

Hadits-hadits di atas secara jelas menunjukkan bahwa mayat mempunyai kehormatan sebagaimana orang hidup. Begitu pula melanggar kehormatan dan menganiaya mayat adalah sama dengan melanggar kehormatan dan menganiaya orang hidup.

transplantasi-organ

Donor Organ dari Pendonor hidup

Donor organ dari pendonor hidup adalah pemindahan jaringan atau organ tubuh seseorang yang hidup kepada orang lain atau ke bagian lain dari tubuhnya sendiri tanpa mengancam kesehatan. Biasanya yang dilakukan transplantasi ginjal, karena memungkinkan seseorang hidup dengan satu ginjal saja, sedangkan untuk donor organ lain seperti donor jantung dan pankreas pendonor harus dalam keadaan sudah meninggal karena tidak mungkin seseorang dapat hidup tanpa jantung dan pankreas (Patricia Soetjipto, 2010).

Organ dan jaringan manusia yang bisa didonorkan saat manusia hidup antara lain:

untitled

  1. Ginjal

Individu yang hidup dapat menyumbangkan salah satu dari dua ginjalnya dan ginjal yang tersisa masih dapat menyediakan fungsi yang dibutuhkan untuk menghilangkan limbah dari tubuh. Sumbangan ginjal tunggal adalah prosedur donor hidup yang paling sering dilakukan.

  1. Hati

Donor hidup juga dapat menyumbangkan salah satu dari dua lobus hati. Hal ini dimungkinkan karena sama seperti sel-sel kulit tumbuh kulit baru, sel-sel hati pada lobus sisa hati bisa tumbuh kembali atau beregenerasi sampai hati hampir berukuran seperti aslinya. Regenerasi hati terjadi dalam waktu singkat di keduanya, donor hati dan penerima hati.

  1. Paru-paru, pankreas dan bagian dari usus

Donor hidup juga memungkinkan untuk mendonorkan sebuah paru-paru atau bagian dari paru-paru, bagian dari pankreas dan bagian dari usus. Meskipun organ-organ ini tidak beregenerasi, baik porsi organ yang disumbangkan dan bagian yang tersisa pada donor sepenuhnya dapat berfungsi.

  1. Jantung

Yang mengejutkan, organ jantung pun dapat disumbangkan saat masih hidup, tetapi hanya jika si pendonor menerima jantung pengganti. Ini terjadi hanya bila seseorang dengan penyakit paru-paru parah dan jantung yang berfungsi normal akan memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup jika ia menerima transplantasi gabungan jantung dan paru-paru.Akibatnya, si penerima transplantasi jantung dan paru-paru itu, jika jantungnya berada dalam kondisi baik, ia bisa menyumbangkan jantungnya kepada individu lain yang hanya memerlukan transplantasi jantung.

  1. Jaringan

Jaringan yang bisa disumbangkan oleh donor hidup adalah amnion, kulit, tulang, darah, sumsum darah, sel induk darah, dan tali pusat.

Menurut MUI dalam jumpa pers pada tanggal 27 juli 2010, MUI hanya membolehkan pengambilan organ setelah si pendonor dinyatakan meninggal. Penerima donor pun menurut MUI baru bisa dilakukan jika pasien berada dalam keadaan kritis.

Dalam Islam ada kaidah yang perlu diperhatikan dalam masalah pencangkokan organ tubuh ini yaitu bahwa kemudharatan harus dihilangkan baik bagi penerima donor maupun pendonornya sendiri. Jadi setiap muslim yang melihat orang lain menderita maka syariat menuntutnya untuk menolongnya. Namun demikian kaidah ini kemudaratan harus dihilangkan, hendaklah digabungkan dengan kaidah yang lain yaitu kemudaratan tidak boleh dihilangkan dengan menimbulkan kemudaratan yang lebih besar. Dari dua kaidah fiqih tersebut, jika suatu pencangkokan organ tubuh akan menimbulkan kemudaratan bagi si pendonornya maka ini tidak diperbolehkan.

Untuk itu, Yusuf al Qaradhawi memberikan rincian terhadap organ-organ tubuh yang boleh / tidak boleh didonorkan sebagai berikut:

  • Tidak diperkenankan seseorang mendonorkan organ tubuh yang cuma satu-satunya dalam tubuhnya, misalnya hati atau jantung,karena dia tidak mungkin dapat hidup tanpa adanya organ tersebut.
  • Tidak diperbolehkan mendonorkan organ tubuh bagian luar, seperti mata, tangan, dan kaki. Sebab dengan begitu dia mengabaikan kegunaan organ itu bagi dirinya dan menjadikan buruk rupanya.
  • Tidak diperbolehkan mendonorkan organ tubuh bagian dalam yang berpasangan tetapi salah satu dari pasangan itu tidak berfungsi atau sakit, maka organ ini dianggap seperti \

Seorang pendonor juga perlu memperhatikan siapa orang yang akan menerima organnya. Karena donor anggota tubuh ini bagaikan sedekah maka pemberiannya kepada seorang muslim lebih diutamakan dari pada non muslim, sehingga organ tubuh itu bisa lebih bermanfaat dan bernilai disisi Allah SWT.

Ayat-Ayat Al-Quran yang Berkaitan dengan Donor Organ

Apabila transplantasi organ tubuh diambil dari orang yang masih dalam keadaan hidup sehat, maka hukumnya ‘Haram’, dengan alasan :

Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 32

وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إَلىَ التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan”.

Ayat tersebut mengingatkan manusia, agar jangan gegabah dan ceroboh dalam melakukan sesuatu, namun tetap menimbang akibatnya yang kemungkinan bisa berakibat fatal bagi diri donor, walaupun perbuatan itu mempunyai tujuan kemanusiaan yang baik dan luhur. Umpamanya seseorang menyumbangkan sebuah ginjalnya atau matanya pada orang lain yang memerlukannya karena hubungan keluarga, teman atau karena berharap adanya imbalan dari orang yang memerlukan dengan alasan krisis ekonomi. Dalam masalah yang terakhir ini, yaitu donor organ tubuh yang mengharap imbalan atau menjualnya, haram hukumnya, disebabkan karena organ tubuh manusia itu adalah milik Allah (milk ikhtishash), maka tidak boleh memperjualbelikannya. Manusia hanya berhak mempergunakannya, walaupun organ tubuh itu dari orang lain.

Orang yang mendonorkan organ tubuhnya pada waktu masih hidup sehat kepada orang lain, ia akan menghadapi resiko ketidakwajaran, karena mustahil Allah menciptakan mata atau ginjal secara berpasangan kalau tidak ada hikmah dan manfaatnya bagi seorang manusia. Maka bila ginjal si donor tidak berfungsi lagi, maka ia sulit untuk ditolong kembali. Maka sama halnya, menghilangkan penyakit dari resipien dengan cara membuat penyakit baru bagi si donor.

Transplantasi organ yang hukumnya ‘ja’iz (boleh)’, dengan alasan :

Al-Quran surah Al-Maidah ayat 32:

وَمَنْ أَحْياَهَا فَكَأَنمَّاَ أَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعاً

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia semuanya”.

Al-Quran surah Al-Maidah ayat 2:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa”.

Transplantasi merupakan salah satu jenis pengobatan, sedangkan pengobatan merupakan hal yang disuruh dan disyari’atkan dalam islam, dalam mendonorkan organ tubuh dari manusia yang sudah meninggal  terdapat  dua hal yang mudlarat dalam masalah ini yaitu antar memotong bagian tubuh yang suci dan dijaga dan antara menyelamatkan kehidupan yang membutuhkan kepada organ tubuh mayat tersebut. Namun kemudlaratan yang terbesar adalah kemudlaratan untuk menyelamatkan kehidupan manusia. Maka dipilihlah sesuatu yang kemudlaratannya terbesar untuk dihilangkan yaitu memotong organ mayat untuk menyelamatkan kehidupan manusia. Menyumbangkan organ tubuh si mayit merupakan suatu perbuatan tolong-menolong dalam kebaikan, karena memberi manfaat bagi orang lain yang sangat memerlukannya.

Hadist-Hadist Nabi yang Berkaitan dengan Transplantasi Organ

  1. Hadits Nabi, riwayat Malik dari ‘Amar bin Yahya, riwayat al-Hakim, al-Baihaqi dan al-Daruquthni dari Abu Sa’id al-Khudri dan riwayat Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ubadah bin al-Shamit :

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh membuat madharat pada diri sendiri dan tidak boleh pula membuat madharat pada orang lain”.

Berdasarkan hadits tersebut, mengambil organ tubuh orang dalam keadaan koma/sekarat haram hukumnya, karena dapat membuat madharat kepada donor tersebut yang berakibat mempercepat kematiannya, yang disebut euthanasia.

Manusia wajib berusaha untuk menyembuhkan penyakitnya demi mempertahankan hidupnya, karena hidup dan mati berada di tangan Allah. Oleh karena itu, manusia tidak boleh mencabut nyawanya sendiri atau mempercepat kematian orang lain, meskipun hal itu dilakukan oleh dokter dengan maksud mengurangi atau menghilangkan penderitaan pasien.

Pada dasarnya, pekerjaan transplantasi dilarang oleh agama Islam, karena agama Islam memuliakan manusia berdasarkan surah al-Isra ayat 70, juga menghormati jasad manusia walaupun sudah menjadi mayat, berdasarkan hadits Rasulullah saw : “Sesungguhnya memecahkan tulang mayat muslim, sama seperti memecahkan tulangnya sewaktu masih hidup”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Said Ibn Mansur dan Abd. Razzaq dari ‘Aisyah).

Tetapi menurut Abdul Wahab al-Muhaimin; meskipun pekerjaan transplantasi itu diharamkan walau pada orang yang sudah meninggal, demi kemaslahatan karena membantu orang lain yang sangat membutuhkannya, maka hukumnya mubah/dibolehkan selama dalam pekerjaan transplantasi itu tidak ada unsur merusak tubuh mayat sebagai penghinaan kepadanya. Hal ini didasarkan pada qaidah fiqhiyyah

ِإذَا تَعَارَضَتْ مَفْسَدَتاَنِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا

“Apabila bertemu dua hal yang mendatangkan mafsadah (kebinasaan), maka dipertahankan yang mendatangkan madharat yang paling besar, dengan melakukan perbuatan yang paling ringan madharatnya dari dua madharat”.

Hadits Nabi saw.

تَدَاوُوْا عِبَادَ اللهِ فَإِنَّ الله َلَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ اْلهَرَمُ

“Berobatlah kamu hai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak meletakkan suatu penyakit kecuali dia juga telah meletakkan obat penyembuhnya, selain penyakit yang satu, yaitu penyakit tua”.(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Usamah ibnu Syuraih)

Oleh sebab itu, transplantasi sebagai upaya menghilangkan penyakit, hukumnya mubah, asalkan tidak melanggar norma ajaran Islam.

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda pula :

“Setiap penyakit ada obatnya, apabila obat itu tepat, maka penyakit itu akan sembuh atas izin Allah”. (HR. Ahmad dan Muslim dari Jabir).

Kondisi yang Memungkinkan Pelaksanaan Donor Organ Menjadi Haram

organ-donation-transplantation

  1. Apabila organ yang didonorkan merupakan organ vital, sehingga apabila organ tersebut didonorkan dapat menyebabkan kematian bagi pendonor. Misalnya donor otak
  2. Melakukan transplantasi ketika pendonor dalam keadaan koma, karena hal ini dapat menyebabkan kondisi pendonor semakin buruk.
  3. Ketika donor organ dapat membahayakan keadaan pendonor. Misalnya ketika pendonor mendonorkan salah satu dari organ ganda, contohnya ginjal, namun salah satu ginjalnya tidak berfungsi dengan baik.
  4. Ketika transplantasi organ dilakukan tanpa persetujuan pihak keluarga dan bukan dalam keadaan gawat darurat.
  5. Ketika pendonor mendonorkan organ reproduksi, karena dapat menimbulkan kebingungan kepada keturunan-keturunannya.
  6. Mendonorkan organ tunggal yang dapat menyebabkan kematian bagi pendonor.

Menurut dua ulama terkemuka, almarhum Mufti Muhammad Syafi dari Pakistan dan Dr. ‘Abd al-Salam al-Syukri dari Mesir, ada tiga landasan yang menyebabkan donor organ menjadi haram, yaitu:

  1. Kesucian Hidup/ tubuh manusia

Sesuai dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Al-Quran, dapat disimpulkan bahwa manusia diperintahkan untuk melindungi dan melestarikan kehidupannya sendiri serta kehidupan orang lain., seperti yang tercantum dalam QS An-Nisa:29

  1. Tubuh Manusia adalah Amanah

Dalam Al-Quran surat Al-Isra:70 dikatakan bahwa Allah telah memuliakan manusia, yaitu menjadikan bumi serta segala isinya bermanfaat bagi manusia. Disebutkan pula dalam QS Al-Balad:8-9 bahwa Allah telah melengkapi manusia dengan segala apa yang dibutuhkannya berkaitan dengan organ tubuh.

  1. Memperlakukan Tubuh Manusia sebagai Benda Material

Memperlakukan tubuh manusia sebagai benda material merupakan sesuatu yang dilarang.

Referensi :

http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/matkul/Hukum_Kedokteran/Transplantasi%20organ%20(15).pdf diakses tanggal 20 Juni 2015 pukul 08.00 WIB

Qardawi, Yusuf, Fatwa fatwa  Kontemporer, Jakarta:Gema Insani Press, jilid 2, 1995

http://www.id.astellas.co.id di akses pada tanggal 15 Juni 2015 pukul 19.00 WIB

http://www.staff.blog.ui.ac.id di akses pada tanggal 20 Juni 2015 pukul 08.10 WIB

http://www.en.netlog.com diakses pada tanggal 20 Juni 2015 pukul 09.00 WIB

Hanafiah, M. Yusuf dan Amri Amir.2009.Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan Edisi4.Jakarta:EGC

Hawari, Dadang. 2008.Integrasi Agama dalam Pelayanan Medik.Jakarta:Balai Penerbit FKUI

http://staff.blog.ui.ac.id/wiku-a/files/2013/03/Contoh-NA-Tansplantasi-Organ-Manusia.pdf diakses tanggal 21 Juni 2015 pukul 06.56 WIB

Halo dunia!

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika Anda menyukai, gunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengapa Anda memulai blog ini dan apa rencana Anda dengan blog ini.

Selamat blogging!